Senin, 17 Maret 2014

Melacak Kronologi dan Metodologi Tafsir Sunda

Oleh : Yudi Sirojuddin Syarief

ABSTRAK
Islam dalam pandangan masyarakat Sunda adalah bagian dari dirinya yang tak bisa dipisahkan. Islam Sunda dan Sunda Islam kemudian menjadi sebuah jargon yang mewakili keterpaduan antara masyarakat Sunda dengan agama yang dianutnya yakni Islam. Sejatinya keterpaduan antara Sunda dan Islam dapat dilihat dari karya yang saling memengaruhi satu sama lain. Salah satunya ada dalam ranah tafsir al-Qur’an. Makalah ini dimaksudkan untuk melacak kronologi kemunculan karya tafsir berbahasa Sunda periode abad ke-20, karena lahirnya tafsir di Nusantara baru hadir pada abad tersebut. Tidak hanya itu, tulisan ini juga ingin mengurai metode penafsiran yang dipakai oleh para mufassir dengan menggunakan metodologi penafsiran yang sudah baku.
Kata kunci : Islam, Sunda, Tafsir, Al-Qur’an.

Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan pedoman hidup utama umat Islam. Sebagai pedoman, tentunya al-Qur’an harus dapat dipahami maknanya. Untuk dapat memahami makna al-Qur’an diperlukan pengetahuan tentang bahasa Arab. Namun, dalam memahami al-Qur’an tidak hanya pengetahuan bahasa Arab saja yang diperlukan, tapi juga pengetahuan lain yang berkaitan erat dengan al-Quran, seperti : asba>b al-nuzu>l, ilmu qira>’a>t, na>sikh mansu>kh, dll.

Sejatinya bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa al-Qur’an hakikatnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apapun di dunia. Bukan karena tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab, bukan pula karena tidak ada padanan katanya dalam bahasa lain. Namun karena bahasa Arab dijadikan bahasa al-Qur’an bahasa kitab suci sehingga menjadikannya bahasa yang transenden dan sakral. Anehnya, Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang paling banyak dibaca orang dan diulang-ulang lagi membacanya meskipun orang tersebut tidak tahu maknanya.[1]

Sakralitas kebahasaan tidak menjadikan al-Qur’an kemudian tidak diterjemahkan sama sekali. Bahkan berbagai bahasa pernah menerjemahkan al-Qur’an. Artinya disini, dalam pemahaman umat Islam bahasa al-Qur’an tidak dapat digantikan dengan bahasa lain oleh karenanya dalam terjemahan al-Qur’an biasanya redaksi aslinya yang dalam bahasa Arab tetap disertakan disamping terjemahan atau tafsirnya.[2]

Sebagai agama yang datang kemudian, Islam adalah unsur 'luar' bagi orang Sunda. Maka keberislaman orang Sunda dapat diukur dari karya yang dihasilkan atas perpaduan unsur 'dalam' sebagai fitrah masyarakat Sunda, dan unsur 'luar', yakni Islam.[3]

Masyarakat Sunda yang menganggap dirinya adalah bagian yang tak terpisahkan dengan Islam, juga mencoba memahami bahasa al-Quran dengan menerjemahkan bahkan menafsirkan al-Qur’an. Meskipun penerjemahan al-Quran ataupun penafsirannya baru dapat dilaksanakan setelah abad ke-19, namun ternyata karya yang dihasilkannya tidak sedikit.